24 Mei 2011

Menjelang Matahari Terbenam
“Berapa ?, cukup ngak buat kita beli obat ibuk ?”. Tarno bertanya pada Lita, bocah kecil yang tengah menghitung uang hasil dari mereka mengamen.
            “Belum kak, baru cukup untuk makan kita” Lita yang di tanya menjawab dengan muka lesu.
            “Ya sudah, kalau kamu mau ibuk sembuh malam ini kita minum air putih jadi uangnya bisa kita guna’in buat beli obat ibuk. Besok pagi, kakak usahakan kita makan. Ngak apa-apa kan ?” Tarno bertanya penuh harap pada adiknya, ia berharap adiknya bisa mengerti keadaan mereka.
            “Um, iya kak. Ngak apa-apa”. Lita memandang kakaknya dengan tatapan kosong.
            Tarno dan Lita adalah dua kakak beradik yang tinggal di pinggiran sungai Batanghari. Mereka ditinggal pergi oleh ayah mereka saat mereka kecil, saat itu Tarno berumur 13 tahun dan Lita 10 tahun. 3 tahun berlalu dan kemudian Ibu mereka di vonis dokter mengidap penyakit leukimia stadium 3. Hampir tidak ada kemungkinan untuk sembuh. Terlebih lagi dengan keadaan keuangan yang benar-benar tidak memadai untuk makan saja meraka harus bekerja seharian dan itupun hanya cukup untuk mencukupi makan mereka 2 kali sehari. Alhasil ibu mereka tidak begitu di perhatikan kesehatannya, hanya obat generic yang mereka bisa belikan guna mengurangi penjalaran penyakit itu.
            Senja beranjak malam, kedua kakak beradik itu melangkah menuju apotik terdekat untuk membeli obat lalu beranjak menuju kediaman mereka yang berada tak jauh dari tempat mereka mengamen.
            Sesampai dibilik Tarno memberikan obat yang mereka beli pada ibunya untuk diminum, ia menuntun ibunya dan meminumkan air yang ada di gelas. Lalu membaringkan kembali ibunya d ranjang yang tergolong tak layak pakai itu.
“Ini buk, diminum dulu obatnya”
“Kalian udah makan, Tar ?” ibunya malah bertanya.
 “Ngak usah di fikirin buk, yang penting ibuk bisa minum obat ters sembuh. Besok kan kami masih bisa makan”. Tarno menjawab pertanyaan ibunya
“Seharusnya kamu beli nasi saja untuk kamu dan Lita, ibuk ngak papa. Ibuk ngak tahan melihat anak-anak ibuk kelaparan” ibu Tarno menatapnya iba.
“Sudahlah buk, aku sama Lita ngak papa. Sekarang ibuk minum obatnya terus istirahat”. Tarno meminumkan obat pada ibunya.
“Kamu istirahat juga ya, jangan tidur terlalu malam kalian kan sudah capek bekerja seharian”.
“Iya, buk” Tarno menyahut
Setelah itu ia beranjak ke luar biliknya. Ia melihat adiknya tengah duduk di bangku bambu yang telah lapuk. Ia beranjak duduk di sebelah adiknya. Menatap adiknya yang tengah termenung lalu menatap ke langit yang bertaburan bintang. Ia pun larut juga dalam lamunan.
Beberapa saat hening, Lita membuka percakapan.
“Kak,”
“Kenapa ?”
“Aku capek ngamen terus, aku mau berhenti. Aku mau sekolah kayak teman-teman aku. Mereka tiap pagi ngak ngamen kayak aku di lampu merah, mereka makan ngak kayak aku yang Cuma dua kali sehari”. Lita menahan deru emosi yang bergejolak di hatinya, ia benar-benar sudah tidak tahan dengan apa yang menimpanya. Ia mencurahkan isi hatinya pada kakaknya.
“Kenapa kamu ngomong gitu?, kamu udah ngak mau makan lagi?, mau ibuk sakit-sakitan?” Tarno mengomentari keluhan adiknya dengan pertanyaan yang sesungguhnya dia sendiri bisa menjawabnya. Ia bertanya hanya untuk meyakinkan bahwa adiknya dapat berfikir waras mengenai hidup mereka. Meskipun adiknya terhitung masih kecil tapi ia pastinya sudah dapat menela’ah bagaimana keadaan mereka sekarang. Dan tidak semestinya ia berfikir untuk lari dari apa yang mereka hadapi untuk sekarang ini.
“Setidaknya kamu bisa berfikir dewasa Lit, kamu tahu keadaan ibuk sekarang, ibuk tidak mungkin lagi bekerja sekeras dulu, atau kamu mau ibu tambah sakit?” Tarno menatap Lita
“Aku Cuma capek kak, aku bosan hidup kayak gini terus. Aku pengen hidup kayak mereka yang ngak perlu terlonta-lonta kerja dijalanan kayak kita” Lita berujar sembari menunduk, ia tidak berani menatap Tarno yang memandangnya dengan tatapan marah sekaligus iba.
“Tuhan ngak sayang kita kak, Tuhan Cuma mau buat kita sengsara. Kemana dia saat kita butuh?” Lita mengeluarkan air mata.
“Astagfirullahaladzim, Lit. istighfar Lit, kamu ngomong apa ? Tuhan selalu punya rencana buat kita, kamu baru dapat cobaan gini aja udah ngatain Tuhan ngak peduli sama kamu. Kamu tau masih banyak yang lebih susah dari kita, kamu masih punya kakak, masih punya ibuk. Sedangkan ada yang ngak punya siapa-siapa masih mau sabar ngadapin cobaan.”
“Tuhan ngak akan ngasih cobaan di luar batas kemampuan hambanya Lit, sudah.. sekarang kamu shalat sana. Minta ampun sama Allah karena kakak yakin omongan kamu tadi sudah bersemi menjadi dosa” Tarno memerintahkan adiknya untuk shalat
Lita berlari ke dalam biliknya sambil menangis. Ia tak menghiraukan kakaknya yang marah saat ia tak mengindahkan kata-kata kakaknya. Sesampai di tempat tidurnya yang terletak di dapur Lita berbaring dan menutup kepalanya dengan bantal. Ia terus menangis dan akhirnya tertidur.
Tarno terdiam meratapi apa yang dikatakan adiknya, sekali lagi ia menengadah ke langit. Di dalam hati ia berujar “ya Allah, maafkanlah adikku yang belum bisa bersyukur atas karuniamu, tabahkanlah hati kami agar kami bisa terus tawakal padamu ya Allah”. Ia lalu beranjak dari kedudukannya. Masuk ke biliknya yang reot, memandangi wajah ibunya yang sedang tertidur di ranjang di sudut ruangan. Ia menatap pilu, betapa rapuh hatinya jika melihat wajah sendu sang ibu. Ia begitu menyayangi ibu dan adiknya bahkan ia rela mengorbankan segala yang ia punya termasuk nyawanya agar mereka bahagia. Tarno melangkah menuju tempat tidurnya di dapur yang bersebelahan dengan ranjang Lita. Ia membaringkan tubuhnya, lalu memandang langit-langit sembari menerawang betapa  berat tanggungan nya saat ini. Ia berfikir untuk mencari pekerjaan tetap, apapun itu asalkan halal dan dapat mencukupi kebutuhan makan dan obat ibu mereka. Ia berencana mencari pekerjaan esok hari. Ia memejamkan mata dan tertidur.
Keesokan harinya, setelah shalat subuh Tarno keluar dari biliknya dan berjalan menuju pusat kota Jambi. Tekadnya sudah bulat untuk mencari pekerjaan tetap. Ia merasa mengamen tak lagi dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Ia membiarkan adiknya yang sedang memasak air dan ibunya yang masih di pembaringan lalu pergi tanpa sepengetahuan mereka.
Sesampai di pusat kota, Tarno menuju sebuah mini market yang menerima lowongan untuk menjadi cleaning service. Sesampai disana ia langsung mengajukan diri kepada petugas mini market tersebut.
“Permisi mbak, saya mau melamar pekerjaan”, Tarno mengajukan diri.
“Ijazahnya mana dek” , petugas tersebut menanyakan ijazah sekolah Tarno
 “Um.. saya ngak tamat sekolah, mbak” Tarno menjelaskan
“Maaf dek, untuk menjadi karyawan disini minimal tamat SMA, meskipun hanya menjadi cleaning service. Sebaiknya adek mencari pekerjaan di tempat lain saja yang tidak memerlukan surat keterangan lulus sekolah” petugas itu menerangkan pada Tarno
“Baik mbak, terimakasih”, Tarno tersenyum kecewa kepada petugas penerima karyawan mini market tersebut.
Tarno menyusuri pinggiran jalan raya kota Jambi. Berkali-kali ia keluar masuk toko, mini market, bahkan ia sudah berulangkali pula ditolak. Hingga tengah hari ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Ia kemudian duduk di pelataran salah satu mall di pusat kota tersebut. Ia memperhatikan mobil yang lalu lalang di jalan raya. Tampak serombongan gadis seumuran dirinya sedang melintas dihadapannya, mereka tertawa riang, di belakang mereka ada pula remaja-remaja lainnya yang menenteng barang belanjaan dari mall tersebut. Tarno memandangi kenyataan itu dengan tatapan kosong.
Beberapa waktu berlalu, setelah melepas lelah Tarno berdiri, ia berjalan menuju penjual es tebu dan memesan satu bungkus untuknya. Setelah mendapat pesanannya Tarno melanjutkan perjalanannya.
Tarno memasuki bangunan yang setengah jadi dan masih dalam tahap pembuatan. Ia berlari kecil menuju seorang lelaki berbadan tinggi besar dan berkumis, ia mengenakan pakaian yang lebih rapi dari pekerja lainnya, ditangannya terdapat buku dan kertas design bagunan tersebut. Sepertinya ia adalah mandor dari para kuli-kuli bangunan tersebut.
“Maaf pak,” Tarno menyapa lelaki tersebut.
 “Ya, ada apa ?” lelaki tersebut menjawab tanpa menoleh sedikit pun pada Tarno
“Saya..saya..saya.. ingin bekerja disini pak,” Tarno berkata dengan gugup dan terbata-bata.
“Hahaha. Memangnya kamu bisa apa ?, kamu itu masih kecil carilah pekerjaan yang sesuai. Disini membutuhkan orang-orang yang bertenaga kuat, bukan yang loyo seperti kamu”. Lelaki tersebut tertawa mendengar perkataan Tarno.
“Apapun pak. Tolonglah pak, saya benar benar butuh pekerjaan. Ibu saya sakit, dan adik saya butuh makan pak. Ayah saya sudah tidak ada lagi.” Tarno memelas iba pada lelaki itu.
“Iya, saya bukan tidak mau menolong. Tapi ini pekerjaan berat. Sulit bagi anak-anak seperti kamu” lelaki itu menjelaskan lagi
“Saya bisa ngangkat-ngangkat batu bata pak, nimbi air, saya mau kok disuruh apa aja. Yang penting saya bisa dapat penghasilan pak”
“Baik kalau kamu memaksa, kamu saya terima bekerja disini. Nama saya Parmin, panggil saya pak Parmin. Mulai hari ini kamu bisa bekerja, tapi saya tidak bisa memberi kamu gaji sebesar pekerja lainnya. Kamu hanya dapat Rp. 30.000 perharinya, bagaimana ?”
“Baiklah pak, tidak apa-apa. Saya akan bekerja sungguh-sungguh. Terimakasih pak”
Tarno pun mulai bekerja membantu pekerjaan para kuli disana. Ia mengangkat air untuk adonan semen, mengantar batu bata, membersihkan sisa-sisa pekerjaan dan lainnya.
Melihat ketekunan Tarno, Pak Parmin pun tergugah hatinya untuk memberikan imbalan yang berlebih. Di sore hari nya saat pekerjaan hari itu usai, Tarno yang semulanya mau pamit pulang dicegah oleh pak Parmin. Ia mengajak Tarno ke toko kelontong miliknya yang tidak jauh dari lokasi pembangunan. Sesampai disana ia menyuruh Ratmi pelayan tokonya membungkuskan sembako dan memberikannya pada Tarno.
“Apa ini pak?” Tarno merasa terkejut menerima pemberian Ratmi
“Ambil saja, itu hadiah ketekunan kamu, dan ini uang gaji kamu hari ini, bekerja lah lagi esok.” Pak Parmin memberikan sejumlah uang pada Tarno.
Betapa senangnya hati Tarno menerima pemberian pak Parmin. Ia lalu pulang ke rumah dengan senyuman.
Tarno berjalan menyusuri pinggiran trotoar jalan raya di kota Jambi. Menjelang senja jalanan mulai sepi akan para pejalan. Melewati jembatan Batanghari dua ia memandangi matahari yang hampir saja tenggelam dengan warna kejingga-jinggaan. Rutinitas sambilan yang ia lakukan di perjalanan pulang. Setelah itu ia juga menyusuri aliran sungai Batanghari guna mencapai bilik kecilnya.
Sesampai dirumah, Tarno menuju ke dapur. Sebelumnya ia melihat adiknya Lita tengah melipat pakaian yang ia ambil di jemuran. Tarno mengurungkan niatnya untuk ke dapur. Ia memutar langkah menuju ke tempat adiknya berada.
“Ini. Kamu bisa masak sekarang”. Tarno memberikan bungkusan hitam berisi bahan makanan kepada adiknya\
“Apa ini kak ?, kakak dapat dari mana?” Lita yang kebingungan dengan kedatangan kakaknya. Terlebih lagi setelah Tarno memberinya bungkusan itu.
“Sudah, masaklah dulu. Pasti ibuk sudah sangat lapar.”Tarno duduk di sofa disebelah ranjang lusuh tempat ibunya terbaring. Ia tersenyum saat ibunya menatap cemas.
“Kamu kemana aja Tar, pergi kok ngak bilang-bilang. Tadi ibuk suruh Lita mencari kamu ketempat kamu biasa mengamen, tapi kamunya ngak ada. Kamu kemana ?”
“Aku ngak ngamen lagi buk, sekarang aku kerja. Di tempat bangunan di sebelah pasar. Ngamen belum cukup buat makan kita buk, makanya tadi aku cari kerja dan Alhamdulillah aku diterima disana. Penghasilannya pun lumayan buk, malah sama mandornya aku dikasih makanan” Tarno menjelaskan
“Habis ini ibuk minum obat ya,”
“Kamu ngak papa Tar, kerja ? ibuk minta maaf, ngak bisa mencukupi kebutuhan kalian, ibuk ngak mau sebenarnya sakit-sakitan seperti ini, ibuk hanya nyusahin kalian.”
“Udah lah buk, sudah sewajarnya aku bantuin ibuk. Aku kan udah besar buk, udah bisa kerja buat cari makan kita”
Ibu Tarno merasa iba mendengar penuturan anaknya yang sudah layaknya seperti orang dewasa. Beliau sangat bangga dengan kedua anaknya yang tidak pernah mengeluh meskipun hidup kekurangan terlebih lagi Tarno dengan kerelaan hatinya mau membantu mencari nafkah untuk keluarga mereka.
Dari dapur Lita membawa nasi yang mengepulkan asap. Disertai cabe giling yang menyeruakkan aroma bau sedap yang menggugah selera, apalagi Tarno yang memang sangat lapar setelah bekerja menjadi buruh bangunan seharian. Lita meletakkan nasi dan lauk pauk di hadapan kakaknya duduk. Ia berjalan lagi dapur untuk mengambil piring dan gelas untuk minum, tak lupa pula air pembasuh tangan.
Tarno membantu ibunya turun dari ranjang dan mendudukkannya di sebelah tempat ia duduk. Ia membiarkan ibunya bersandar di dinding. Lalu Lita pun duduk disamping ibunya. Sekarang dihadapan mereka telah terhidang nasi yang mengepulkan asap, cabe yang digiling mentah beserta tomat, rebusan daun ubi muda dan tempe goreng.
Lita menyendokkan nasi kedalam piring untuk ibu mereka, ia memasukkan cabe giling, daun ubi rebus dan beberapa potong tempe. Ia menyodorkan pada ibunya. Tarno pun menyusul menuangkan nasi di piringnya. Mereka bertiga makan dengan lahapnya. Setelah makan Lita membereskan sisa-sisa makanan. Ia mencuci piring di jamban belakang bilik mereka.
Tarno duduk di bangku bambu yang ia biasa duduki. Malam ini rembulan tengah bersembunyi di balik awan. Nampaknya ia enggan menampakkan diri. Layaknya hati Tarno yang dilanda kekosongan. Tarno duduk merenungi nasib mereka yang tak kunjung membaik. Ia sangat ingin membahagiakan orang tua dan adiknya, ia juga ingin adiknya sekolah seperti anak-anak lain yang seumuran dengannya. Tapi, ia bingung bagaimana cara mewujudkan impian tersebut.
Beberapa lama Tarno terlarut dalam lamunannya akan kebahagian orang-orang yang ia cintai. Ia pun lelah dan berinisiatif untuk tidur karena malam telah larut, rembulan pun sepertinya masih enggan menampakkan diri di malam yang kelam itu.
Kokok ayam terdengar nyaring melalui celah-celah dinding anyam yang terbuat dari rotan tersebut. Bilik kecil yang hanya berpenerang lampu teplok itu tak kelihatan sunyi. Sebab penghuninya telah terbangkit beberapa saat sebelum ayam berkokok. Ada saja yang dilakukan saat terbangun. Merebus air, menanak nasi dan pekerjaan ringan lainnya dilakukan oleh Lita setelah ia melaksanakan shalat subuh begitu pula dengan Tarno yang berangsur menuju sungai Batanghari untuk mengangkut air guna kebutuhan sehari-hari. Setelah pekerjaan selesai Lita memasak lauk seadanya sisa dari bahan makanan yang dibawa oleh Tarno kemarin. Ia menghidangkan sarapan pagi tersebut di tempat biasa mereka makan bersama. Pagi ini mereka sekeluarga dapat sarapan pagi. Biasanya mereka hanya makan siang dan malam ataupun pagi dan malam saja.
“Lit, kakak mau kerja dulu. Kamu jaga ibuk dirumah ya” Tarno berkata sembari memasangkan topi usang di kepalanya. Ia yakin hari ini pasti akan sangat panas.
“Kakak kerja dimana ?, aku ngak boleh ikut ya?”
“Ngak usah, kakak kerja di pembangunan. Kamu jaga ibuk aja dirumah, sebelum magrib kakak sudah pulang. Jagalah ibuk dirumah, kerjakan apa saja yang bisa kamu kerjakan. Jangan tinggalkan ibuk ya” Tarno berkata sambil berjalan menuju pint keluar
“Iya kak, hati-hati. Jangan pulang terlalu malam” Lita mengantar kakaknya hingga pintu
Tarno kembali berjalan menyusuri pinggiran sungai Batanghari, ia mempercepat langkah agar cepat sampai di tempat ia bekerja. Sesampai di tempat pembangunan ia menemui Pak Parmin, mandor yang memperkerjakan dirinya.
“Pagi, Pak. Saya sudah siap bekerja hari ini” Tarno tersenyum pada Pak Parmin
“Ya, selamat pagi. Mulailah bekerja, jangan sia-siakan waktu mu, nak” Pak Parmin menepuk pundak Tarno
“Baik pak, terimakasih.” Tarno berjalan lagi menuju tempat pengadukan semen.
Pagi menjelang siang dilewati Tarno dengan penuh semangat. Ia benar-benar bekerja keras agar mendapatkan hasil yang maksimal. Peluh menetes dari pelipisnya tak ia hiraukan, terik matahari membakar kulitnya yang telah legam karena terkena sinar matahari tiap harinya.
Saat adzan zuhur berkumandang Tarno menghentikan pekerjaannya sejenak, ia melangkah menuju mushola terdekat. Sebelumnya ia berwudhu dan membersihkan diri. Lalu ia shalat zuhur dengan khusyuk. Setelah selesai shalat Tarno kembali ke tempat pengadukan semen. Disana telah menunggu Pak Parmin yang tampak kebingungan.
“Tarno, kamu kemana?” Pak Parmin berkata keras pada Tarno
“Maaf pak, tadi saya ke mushola diseberang jalan. Saya shalat zuhur pak, maaf sebelumnya saya tidak memberi tahu” Tarno berkata sambil ketakutan
“Ya sudah, lain kali kalau mau pergi bilang dulu. Saya kira kamu tidak mau bekerja lagi”
“Maaf pak, saya tidak akan mengulanginya lagi”
“Baiklah, lanjutkan pekerjaan kamu. Saya mau mengecek pekerja lainnya”
“Baik pak”. Tarno berkata lagi.
Tak terasa senja pun menjelang. Tarno menghentikan pekerjaannya dan membersihkan sisa-sisa semen hasil adukan yang menempel di pakaian dan tangannya dengan air.
“Tarno” Pak Parmin memanggil Tarno
“Ya, pak” Tarno menyahut
“Pergilah ke toko tempat saya memberi kamu bahan makanan kemarin,  saya sudah menyuruh Ratmi membungkuskan bahan makanan lagi untuk kamu dan keluarga. Ini upah kamu hari ini, saya tidak sempat mampir ke toko lagi, saya harus melaporkan hasil pekerjaan hari ini pada bos saya. Pergilah nanti keburu malam” Pak Parmin berkata sembari menyodorkan uang Rp. 30.000 pada Tarno
“baik pak, terimakasih sekali lagi” Tarno menerima uang tersebut.
Tarno melangkah menuju toko kelontong yang berada tak jauh dari tempat pembangunan itu berada. Tak lama kemudian Ratmi memberikan sekantong baham makanan pada Tarno. Tarno mengambilnya dengan hati berbunga-bunga serta berterimakasih pada Ratmi.
Ia melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah perjalanan ia berhenti dan duduk di pinggir trotoar jalan raya. Memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Tak lama kemudian ia berniat untuk melanjutkan perjalanan pulang, namun sayangnya ia benasib sial. Baru saja ia melangkah dua orang petugas trantib membawanya dengan paksa menuju mobil yang telah berisi puluhan anak lainnya. Mereka berasal dari banyak kalangan mulai dari gelandangan, pengemis, pengamen bahkan ada juga anak-anak yang bekerja sebagai ojek paying saat hujan turun.
Tarno berusaha melepaskan diri dari cengkraman kedua petugas tersebut. Namun, ia kala kuatnya dengan petugas tersebut. Ia meronta-ronta memohon dilepaskan, ia juga berusaha menjelaskan bahwa ia hanya lewat disana. Sayangnya, petugas tersebut tidak menggubris perkataan Tarno. Malangnya Tarno memang tidak mempunyai alasan yang kuat untuk mengatakan bahwa ia bukan anggota para gelandangan itu, sebab dari pakaiannya yang kumuh secara tidak langsung mencerminkan bahwa ia adalah bagian dari mereka yang terjaring itu.
Akhirnya, Tarno pun pasrah. Ia masuk kedalam gerobak mobil yang dikemudikan oleh seorang lelaki berseragam sama dengan petugas yang menangkapnya tadi. Ia duduk disudut gerobak dan bergumal bersama gelandangan lainnya. Disebelah ia duduk, ada seorang anak perempuan sebayanya yang juga tengah kesal dan cemas, sama sepertinya. Bedanya anak yang satu ini tidak berpakaian kumuh layaknya anak lain. Ia mengenakan pakaian yang bermerek tetapi telah sedikit kotor, mungkin karena debu jalanan dan peluh.Ditangannya tergantung sekantong plastik hitam. Tampaknya ia menjualkan plastik-plastik itu di pasar kepada orang-orang yang membutuhkan tempat belanjaan. Kemudian, untuk menghilangkan jenuh Tarno membuka percakapan.
“Nama kamu siapa?”.
Sejenak perempan yang dituju terkejut. Ia tidak mengira akan ada yang mengajaknya berbicara ditengah hiruk pikuk kecemasan para gelandangan yang meronta untuk dibebaskan, tetapi akhirnya ia membuka mulut dan menjawab pertanyaan Tarno.
“Widia, kamu?”
“Tarno. Kenapa bisa kejaring juga ?”
“Aku cuma mau bantu temen aku jualan, tapi sayangnya waktu razia malah aku yang ketangkap. Dianya berhasil lolos.”
“Kasihan, asal kamu dari mana?”
“Gotong Royong”
“Oh, emang sebenarnya kamu ini siapa ? menurut perkiraan aku kamu bukan pengamen ataupun pedagang asongan yang biasa mangkal di daerah sini”
“Ya, aku baru pertama kali bantu teman. Dan aku ngak pernah mimpi bisa kejaring kayak gini. Tadi waktu pulang sekolah aku iseng bantuin Ratih jualan di pasar, sebenarnya dia ngak ngebolehin soalnya dia tau resikonya. Tapi, aku bersikeras dan inilah yang terjadi. Kamu sendiri ?”
“Dulu aku emang pengamen, tapi sekarang udah ngak lagi karena ngamen ngak menjamin. Kebetulan tadi aku lewat situ tepat saat razia, mungkin karena melihat pakaian dan secara fisik aku memang pantas digolongkan sebagai gelandangan. Jadi, aku kejaring juga”
“Kamu ngak bilang sama petugas itu kalo kamu bukan termasuk kalangan kami?”
“Hah, percuma. Mereka mana ada yang percaya, mereka nangkap orang itu ngak pake nanya dulu. Kalo nanya sudah pasti gerobak ini tidak sesesak ini” Tarno mendengus
Widia lalu membenamkan mukanya diantara kedua lututnya, ia menyesali apa yang telah terjadi hari ini. Tapi, semua sia-sia.
Suara ricuh mulai mereda seiring berjalannya mobil yang mengangkut kalangan gelandangan tersebut. Baik Tarno maupun Widia terbungkam membisu, meratapi langit yang mulai gelap. Fikiran mereka melayang entah kemana mereka akan dibawa.
Beberapa saat kemudian mobil yang membawa mereka berhenti di suatu tempat. Tarno memperhatikan tulisan pada papan yang terpampang di depan gedung tersebut. Disitu tertulis “Kantor Lembaga Swadaya Masyarakat Kota Jambi”. Entah dimana tempat mereka berada saat ini.
Selanjutnya mereka semua digiring menuju suatu ruangan dalam gedung tersebut. Mereka diperintahkan untuk membentuk barisan dan duduk di lantai. Seseorang berbaju rapi berdiri di depan ruangan dan memberi penjelasan pada mereka bahwa mereka akan di beri pelatihan agar dapat bekerja sehingga tidak lagi menjadi pengamen.
***
Sebulan kemudian, Tarno dan kawan-kawannya selesai mendapatkan pelatihan keterampilan agar dapat dipergunakan saat mereka bekerja nantinya. Tarno selalu merasa sedih jika mengingat adik dan ibunya dirumah, namun sayangnya ia tidak bisa pulang karena tak seorang pun selain Widia yang  percaya ia masih mempunyai keluarga. Dan malangnya lagi, Widia telah di jemput orang tuanya sehari setelah penjaringan. Kini tinggallah Tarno seorang diri.
 Mereka semua dipindahkan ke tempat penyaluran pekerja. Tarno mendapat bagian sebagai pembuat keset. Ia ditempatkan di daerah Bangko ia pun tak tahu dimana itu.
“Bang, saya mau nanya kota Jambi jauh tidak dari sini” Tarno bertanya pada seorang pekerja yang sama sepertinya.
“Wah, jauh dik. Kalau dari sini butuh waktu lima jam perjalanan mobil” seseorang yang ditanya tersebut menjawab.
“Ongkos mobil kesana berapa bang ?”
 “Sekitar Rp 100.000 dik, memangnya kenapa ?”
Tarno terdiam mendengar betapa mahalnya ongkos untuk ia pulang. Ia terdiam dengan raut muka sedih. Ia berfikir harus berapa lama dulu ia bekerja agar dapat mengumpulkan uang untuk pulang.
“Tak apa-apa bang, saya hanya bertanya” Tarno tak berani mengutarakan niatnya
Hari-hari selanjutnya Tarno bekerja dengan giat, demi mewujudkan impiannya pulang ke rumah. Ia ingin bertemu dengan ibu dan Lita adiknya. Susah senang ia jalani disana. Kadang ia sayang membelanjakan uangnya meskipun untuk makan. Ia benar-benar ingin pulang.
Tarno sering duduk sendiri apabila senja menjelang, ia ingat dulu waktu-waktu senja sangat ia tunggu karena saat itulah ia biasa pulang kerumah dengan membawa makanan untuk ibu dan adiknya.
Kadang ia juga menangis mengingat ibunya yang tengah sakit. Ia hanya bisa berdoa agar kedua orang yang ia sayangi tersebut dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
***
            Suatu hari saat Tarno duduk di pinggir sungai. Saat itu matahari senja tengah berlari mengejar waktu agar ia tak ketinggalan dan bertemu sang bulan si penguasa malam.
            “Tarno” Surti teman Tarno bekerja menyapa Tarno
            “Ya, kenapa Sur?”
            “Kamu ngapain disini, udah mau magrib. Pulanglah !”
            “Ia sebentar lagi, aku masih ingin menikmati senja di Bangko. Haha..” Tarno tertawa
            “Kamu ini, ya sudah. Aku duluan ya” Surti berlalu dari penglihatan Tarno
            Tarno melanjutkan melihat matahari. Sekarang tinggal separuh dari bulatan utuh sang pencerah. Ia tersenyum dan berguman dalam hati “apa Lita juga sedang memandangi langit senja di Jambi ya”. Setelah begitu, ia berdiri dari kedudukannya lalu berjalan menuju baraknya. Selama ia bekerja di Bangko, ia tinggal di barak yang di sediakan oleh pemerintah.
Sesampai di barak, Tarno membersikan diri lalu berbaring di kasurnya. Ia tak lupa berdoa dan berharap dapat bertemu dengan ibu dan adiknya, meski hanya dalam mimpi. Lalu terlelap dalam tidurnya.
***
Setahun kemudian. Tarno telah berumur 18 tahun. Uang yang kumpulkan selama ia bekerja pun telah melebihi cukup untuk pulang ke rumahnya di Kota Jambi. Ia berencana akan pulang esok hari saat matahari terbit sehingga dapat sampai di rumah di senja hari, ia ingin sesampai di Jambi langsung melihat matahari terbenam.
Keesokan harinya Tarno telah siap dengan barang-barangnya yang akan di bawa pulang. Tak lupa oleh-oleh untuk Lita dan ibunya, satu tahun di perantauan buangan membuat ia sangat rindu dengan keduanya apalagi ia belum pernah berpisah dari mereka.
Sebelum berangkat Tarno meminta izin pada teman-teman dan kepala pengurus mereka disana.
“Aku pamit ya, Tih. Jaga diri baik-baik” Tarno menyalami Ratih
“Maaf, Jang. Aku ngak bisa nemenin kamu lebih lama disini. Kalau kamu pergi ke Jambi suatu hari datanglah ke bilikku” Tarno tersenyum pada Bujang teman seperjuangannya disana
“Yo sudah, pegila kau. Aku dak biso makso kau tinggal lamo-lamo disini” Bujang menjawab dengan logat kentalnya sambil menepuk bahu Tarno
“Aku pergi dulu teman-teman. Doakan aku ya” Tarno melambaikan tangan sambil masuk ke bus yang akan ia tumpangi. Dalam hatinya  sesak karena berat sekali meninggalkan teman-teman seperjuangan selama satu tahun, namun di lain sisi ia juga merindukan adik dan ibunya.
Tarno duduk di sebuah bangku kosong bernomor 006 sesuai dengan yang tertera pada tiket yang ia pegang. Tak berapa lama seorang lelaki tua duduk disampingnya. Sesaat kemudian terdengar kondektur bus menyebutkan nama-nama para penumpang bus. Setelah lengkap bus dijalankan. Perjalanan menuju kota Jambi memakan waktu yang cukup lama, Tarno menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia tempati. Tampaknya lelaki tua yang duduk disampingnya telah terlelap dalam mimpi.
Sepanjang perjalanan, Tarno menerka-nerka bagaimana keadaan Lita dan ibunya selama ia tak ada. Apakah mereka makan setiap harinya dan banyak lagi. Ia juga membayangkan bagaimana perasaan Lita dan ibunya saat melihat ia pulang nantinya. Sembari membayangkan hal-hal itu kantuk menyerang pelupuk mata Tarno, ia pun tertidur.
“Bang, bang. Bangun bang, sudah di Jambi ini” kondektur bus yang memeriksa tiket tadinya membangunkan Tarno
Tarno yang kebingungan memandang kesekelilingnya, tampak penumpang yang duduk di sebelahnya tadi pun telah tak ada. Beberapa penumpang tengah berseliweran menuruni tangga bus tersebut. Tarno bangkit dan berjalan menuju pintu bus, lalu ia menuruni tangga bus tersebut. Tepat jam lima sore ia menginjakkan kaki di terminal pemberhentian bus yang tak jauh dari jalan alternatif menuju biliknya. Ia tersenyum lalu merenggangkan otot-otot nya yang kaku selama duduk di bus tadi. Setelah selesai ia berlalu membawa barang-barangnya, ia berjalan menuju biliknya.
Dari kejauhan terlihat bilik Tarno. Ia melihat kejanggalan disana, banyak orang mengenakan baju serba hitam mengerumuni bilik mereka. Ia heran melihat pemandangan tersebut. Ia berjalan cepat menuju biliknya. Terheran-heran ia dibuatnya, terlebih lagi ia mendengar suara raung tangis di dalam biliknya. Sesampai dimuka pintu ia dikejutkan lagi dengan seseorang yang tak lain adalah ibunya terbaring kaku di tengah ruangan diselimuti kain putih. Wajahnya memucat dan tak bergerak. Namun, tampak guratan senyum disana. Disamping pembaringan ibunya Lita menangis tersendu-sendu meratapi ibunya yang telah menjadi tiada. Tarno menyadari kenyataan bahwa ibunya telah tiada. Ia menjatuhkan barang bawaannya lalu berlari menuju jasad ibunya, ia tak kuasa mengurungkan tangis. Ia mencium tangan ibunya yang terasa dingin.
“Buk, bangun buk. Ini Tarno, Tarno pulang buk” Tarno menangis tersedak
“Kakak ?” Lita terkejut melihat kedatangan kakaknya yang secara tiba-tiba, ia menghambur ke pelukan Tarno dan menangis sambil menatapi wajah ibunya
“Ibuk kenapa Lit, ibuk kenapa? “ Tarno bertanya di sela tangisnya
“Ibuk udah pergi kak, ibuk pergi buat selamanya. Aku ngak tau harus ngapain aku udah bawa ibuk ke klinik dan aku ngak punya uang” Lita menangis
Mereka terlarut dalam tangis. Setelah itu jenazah ibu mereka di kebumikan saat itu juga. Tepat menjelang magrib saat matahari senja berlalu ibu mereka kini telah tiada. Matahari senja yang indah menjadi saksi bisu kepergian ibu yang mereka cintai. Matahari yang selalu mereka nantikan kehadirannya dan membawa senyum tersendiri bagi Tarno dan Lita kini mengiringi kepergian ibu mereka. Setelah berdoa, mereka semua berjalan pulang gerimis datang menjelma di tengah senja itu menambah dinginnya suasana. Kebahagiaan Tarno seakan lenyap bersama kepergian ibunya.
Kini Tarno dan Lita hidup sebatang kara di bilik mereka. Tarno bekerja sebagai pengrajin keset terkenal dan membuka usaha yang berkembang pesat. Ia menyekolahkan Lita hingga ia tamat, ia ingin membahagiakan adiknya yaitu keluarga satu-satunya yang ia miliki.

Created by : Rinna Astuti, 2011





Tidak ada komentar:

Posting Komentar